![]() |
| Para Rahib Biarawan Mempelajari Geometri dan Astronomi (wikipedia) |
Tak
pelak lagi, perubahan dalam cara pandang dunia tidak hanya menimbulkan
kesulitan besar bagi filosifi dan teologi tetapi juga menimbulkan
kesulitan bagi ilmu pengetahuan ilmiah. Ilmu pengetahuan ilmiah tidaklah
mampu – berlaku juga bagi filosofi dan teologi – untuk menyelesaikan
kesulitan-kesulitan yang ada sendirian.
Lebih
dari pada masa sebelumnya, ketiganya saling bergantung dalam kolaborasi
yang saling menguntungkan. Kini lebih dari kapanpun – setelah begitu
banyak tuduhan yang diluruskan dan begitu banyak kesalahpahaman dari
kedua belah pihak yang ditanggalkan – kolaborasi yang demikian akan
sangat memungkinkan dan berguna. Sehingga kita tidak lagi membutuhkan
permusuhan yang
menguntungkan atau – seperti yang terjadi saat ini – bukan pula
koeksistensi damai belaka, melainkan sebuah kerjasama dialogis-kritis
yang bermakna antara teologi dan pengetahuan ilmiah dalam menghadapi
dunia yang satu dan bagi tujuan kemanusiaan.
Jalan Perbaikan
Mungkin seorang ilmuwan akan berkata bahwa masalah-masalah filosofis-teologis bukanlah kepentingan mereka dan tidak menarik perhatian sebagaimana seorang filsuf atau teolog pula akan berkata bahwa masalah-masalah matematik-ilmiah bukanlah kepentingan mereka dan tidak menarik. Tetapi sikap demikian malah membuat masalah yang nyata tidak terselesaikan dengan baik, sehingga membuat masalah tersebut terabaikan oleh sikap pengingkaran dan arogan. Sebagaimana filsuf dan teolog secara praktis hidup setiap hari berdasarkan “penerapan” ilmu matematika dan pengetahuan ilmiah, demikian juga ilmuwan secara praktis hidup sehari-hari – tentu menerima dengan cara berpikir yang sangat berbeda – berdasarkan realitas yang menopang dan memungkinkan berbagai fenomena di dunia ini terjadi.
Jadi, perkiraan yang memungkinkan kolaborasi dialogis-kritis antara teologi dan pengetahuan ilmiah adalah, tentu saja – selain daripada kritik yang ditujukan secara langsung kepada pengetahuan ilmiah dan teknologi – adalah jalan perbaikan radikal bagi agama-agama dan teologi. Apa yang diinginkan di abad 17 – yaitu abad yang kita ingat sebagai “abad para jenius” – yang telah dinantikan sejak abad 19 (dengan teori evolusinya) pada akhirnya harus segera disadari bukan hanya dalam kata-kata melainkan juga dalam tindakan. Cara pandang dunia abad pertengahan harus ditinggalkan dan sebagai konsekuensinya, menerapkan cara pandang dunia modern, hasilnya untuk itu bagi teologi sendiri akan tak terbantahkan, yaitu transisi definitive kepada paradigma baru.
Reorientasi metodik secara tak terbantahkan telah berlangsung sejak lama, namun hal ini harus dikerjakan secara konsisten dan komprehensif. Reorientasi konsisten seperti ini kemudian tidak seharusnya dihalangi oleh upaya penyerangan dan taktik-taktik tersembunyi baik dalam pemahaman akan Tuhan atau pemahaman akan keadaan asal manusia dan pemahaman akan dosa asal, dalam ajaran Kristologi Tinggi maupun Rendah, dalam masalah mengenai etika dan moralitas seksual atau mengenai pemahaman akan “Hari Penghakiman” (kematian, setan, penghakiman terakhir, surga dan neraka). Jalan perbaikan ini berlaku dan ditujukan bagi berbagai teologi tradisional, khususnya, pada satu sisi, bagi Protestant fundamental yang tetap terikat pada kata-kata dari Alkitab dan, pada sisi lainnya, bagi teologi skolastik tradisional mulai dari zaman barok skolastik Spanyol hingga neoskolastik…
…Pada umumnya, bagaimanapun juga, teologi kontemporer secara mengejutkan bergerak menuju arah lain. Penerimaan pertama teologi akan paradigma baru telah berlangsung sejak dahulu dan diantara banyak orang, yaitu dalam hubungannya dengan penerimaan cara pandang modern dan dalam pengembangan metode historis-kritis dalam hal: diterapkannya secara penuh pada penafsiran dan sejarah Gereja, dan juga dalam etika dan teologi praktis, lebih ketat dari pada di bidang dogmatika, yang mana lebih dekat terikat kepada tradisi Gereja…
Sebuah
jalan perbaikan yang konsisten akan berjalan dengan baik hanya jika
keputusan yang keliru dan tindakan yang salah dari beberapa bagian dari
institusi agama dan teologi diakui secara jujur… [dan] mengembangkan
teologi sebagai satu kesatuan yang jelas dan konsisten dalam keserasian
yang tak terpungkiri bersama data-data pengetahuan ilmiah yang relative
terjamin. Perang dingin maupun perang terbuka antara teologi dan
pengetahuan ilmiah kini tidak seharusnya diikuti oleh koeksistensi
terputus dan tak bernyawa melainkan diikuti oleh debat yang konstruktif –
tanpa tirai kertas dan besi – mengenai satu dunia dan satu kemanusiaan,
mengenai kebenaran, kesatuan, makna dan nilai dari seluruhnya. Ini
merupakan sebuah tugas, tentunya, sangat jauh melampaui sumberdaya
sebagian individu atau kelompok…
Secara
mengejutkan sejak jaman Plato dan Aristoteles sampai kepada jaman
analitik dan filosofi sosio-kritis, telah terjadi polarisasi secara
besar-besaran. Hasilnya, secara mengejutkan terjadi pemisahan antara
mistisme dan skolatisme, pendidikan klasik dan modern, kemanusiaan dan
pengetahuan ilmiah. Secara mengejutkan pula, terjadi kontras antara
rasionalitas dan pengalaman, penjelasan dan pemahaman, penilaian dan
pemaknaan, antara esprit de geometrie (the spirit of mathematics) dan
esprit de finesse (the intuitive mind). Namun bukankah memungkinkan
untuk terjadinya sedikit kolaborasi, komunikasi antara dua bentuk
pemikiran ini?...
Blaise
Pascal, ilmuwan dan filosof Prancis, pada faktanya “percaya akan
kemungkinan penyatuan atau rekonsiliasi antara dua sikap yang berbeda”
dan sungguh “Pascal barangkali dapat dinobatkan sebagai contoh sintesis
yang berhasil antara dua bentuk pemikiran,” walaupun –sebagaimana
diketahui – “dalam pribadinya satu tipe lebih menonjol dari pada yang
lainnya”. Jadi, tesis rangkap dua untuk rasionalitas modern akan
berurusan dengan pengetahuan modern, kemudian relasi antara pengetahuan
ilmiah dan teologi, dan terakhir – hanya dalam bentuk persiapan – relasi
antara ilmu pengetahuan dan pertanyaan mengenai Tuhan.
----
Kung, Hans. “Does God Exist, An Answer for Today”. 1980. Doubleday
and Company, Inc. Garden City, New York. Section III: Against
rationalism for rationality. Page: 115 - 124
Diterjemahkan oleh: Illuminatoz
Diterjemahkan oleh: Illuminatoz
Perhatian:
(Hak cipta terjemahan menjadi hak milik Illuminatoz, setiap pemanfaatan terjemahan baik sebagian maupun seluruhnya wajib menyertakan nama “Illuminatoz” dan link URL ke blog illuminatoz, http://workofmydarknezz.blogspot.com demikian pula sumber rujukan kepada Buku Prof. Hans Kung wajib disertakan, Terima kasih sudah menghargai hak cipta)

No comments:
Post a Comment